Aku masih teringat jelas aroma pesawat, suara mesin, dan detik-detik sebelum roda pesawat menyentuh landasan Jeddah. Saat itu rasanya seperti memasuki babak baru dalam hidup. Seolah seluruh masa lalu yang berantakan ikut duduk di kursi penumpang, tetapi ada juga harapan kecil yang diam-diam tumbuh di dalam hati. Ini bukan perjalanan biasa. Ini perjalanan untuk menyembuhkan diri.
Berangkat sendirian bukan keputusan mudah. Banyak ketakutan yang bersemayam diam-diam. Takut salah arah, takut tidak paham bahasa, takut tidak ada yang membantu saat kesulitan, takut terjebak masalah yang tidak bisa diselesaikan. Namun yang paling menakutkan sebenarnya bukan itu. Yang paling menakutkan adalah pertanyaan: apakah aku pantas menjadi tamu Allah?
Hari pertama di Makkah menjadi awal yang membuatku benar-benar tersadar. Aku tiba di hotel menjelang sore, hanya sempat berganti pakaian sebentar sebelum memutuskan untuk pergi ke Masjidil Haram. Entah bagaimana, kaki ini bergerak sendiri, seperti tidak ingin menunda barang satu detik pun. Jalan menuju masjid penuh manusia dari berbagai negara, setiap wajah menunjukkan harapan dan doa masing-masing. Aku melangkah perlahan, namun jantungku berdetak begitu cepat.
Ketika Ka’bah pertama kali terlihat, tubuhku seolah lumpuh. Aku berhenti, menutup wajah dengan kedua tangan, dan tangisku pecah begitu saja. Tidak ada kata-kata. Tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan rasa itu. Seakan bertahun-tahun penyesalan, kehilangan, kegagalan, dan rasa sakit mengalir keluar seketika. Aku datang sebagai seseorang yang rapuh, tetapi Ka’bah membuatku merasa diterima sepenuhnya.
Beberapa hari pertama terasa sangat emosional. Aku kerap menangis tanpa alasan. Bahkan ketika sedang thawaf, rasa haru datang tiba-tiba. Bukan karena sedih, tetapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tidak perlu kuat di hadapan siapa pun. Di Tanah Suci, manusia tidak perlu berpura-pura.
Namun perjalanan spiritual tidak selalu tenang. Satu malam, setelah salat isya, aku tersesat ketika kembali ke hotel. Shuttle yang tadi digunakan berhenti beroperasi, dan aku harus berjalan sendirian, melewati jalan besar penuh bangunan baru yang hampir serupa semuanya. Ponsel kehabisan baterai, dan aku tidak punya peta apa pun. Panik mulai menelan logika. Aku berdiri di tepi jalan, tidak tahu harus ke mana. Di tengah kecemasan itu, suara kecil dalam hati berbisik: berdoalah.
Aku menengadahkan tangan, tidak panjang, hanya beberapa kalimat yang jujur. Tidak sampai dua menit kemudian, seorang pria lansia mendatangiku dan bertanya asal dari mana. Ia mengajakku ikut berjalan karena ia menuju jalan yang sama. Tanpa banyak bicara, ia menuntunku sampai hotel, lalu pergi sebelum sempat kuucapkan terima kasih lebih panjang. Pertolongan itu terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Hari demi hari aku semakin menyadari betapa Allah mengatur segalanya. Ketika aku kelelahan, selalu ada kursi kosong. Ketika haus, selalu ada zam-zam di dekatku. Ketika bingung arah, selalu ada orang baik yang menolong. Dan setiap kali itu terjadi, aku belajar satu hal: bergantung kepada manusia itu wajar, tetapi bersandar kepada Allah itu menenangkan.
Selama di Tanah Suci, aku bertemu banyak orang yang datang dengan cerita masing-masing. Ada yang ingin anak, ada yang ingin sembuh, ada yang ingin menghabiskan akhir hidup dalam damai, ada yang ingin membuka bab baru dalam rumah tangganya, ada yang ingin meninggalkan masa lalu yang gelap. Dan di antara semua kisah itu, aku menyadari, kita semua datang dengan luka, tetapi juga datang dengan harapan.
Di salah satu malam terakhir di Makkah, aku duduk cukup jauh dari Ka’bah dan memperhatikan orang-orang thawaf. Aku mulai memahami bahwa perjalanan ke Tanah Suci pada dasarnya bukan tentang perginya tubuh, tetapi kembalinya hati. Ada orang datang bersama rombongan besar dan tetap merasa sendirian. Ada orang datang sendirian dan justru merasa ditemani.
Mungkin karena itulah beberapa orang memilih melakukan umroh mandiri. Bukan karena ingin terlihat berani atau berbeda, tetapi karena ingin menjalani perjalanan iman secara personal. Ketika manusia tidak lagi menjadi sandaran, seseorang belajar menyerahkan semuanya kepada Allah sepenuhnya. Dan justru di situlah kedekatan lahir.
Ketika hari kepulangan tiba, aku duduk lama sebelum meninggalkan masjid. Aku tahu aku akan merindukan tempat ini. Bukan hanya Ka’bah, bukan hanya suara adzan yang menggema, tetapi rasa aman yang tidak pernah bisa ditemukan sepenuhnya di dunia selain di Tanah Suci. Ada bagian diriku yang ingin tinggal saja, tidak kembali pada kehidupan yang sulit. Namun aku sadar, Allah tidak memanggil seseorang ke Tanah Suci untuk melarikan diri. Allah memanggil untuk menguatkan.
Aku pulang bukan sebagai manusia yang sempurna. Aku pulang sebagai manusia yang mengerti bahwa seberapa keras badai hidup menyerang nanti, aku punya tempat untuk bersandar. Hubungan dengan Tuhan yang kuperbaiki di Tanah Suci adalah bekal terbaik dalam hidupku.
Dan hingga hari ini, ketika hidup terasa berat, aku selalu memejamkan mata dan membayangkan pertama kali melihat Ka’bah. Mengingat saat itu saja sudah cukup untuk membuat hati kuat kembali.
Karena pada akhirnya, perjalanan ke Tanah Suci mengajarkan satu hal: kita mungkin datang dengan rasa hancur, tetapi kita pulang dengan hati yang kembali utuh. Tuhan tidak pernah meninggalkan, hanya menunggu kita kembali.

Leave a comment